Sunday, August 31, 2008

Amsal 4:20-23

(20) Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku;
(20) My son, attend to my words; consent and submit to my sayings.

(21) janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.
(21) Let them not depart from your sight; keep them in the center of your heart.

(22) Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.
(22) For they are life to those who find them, healing and health to all their flesh.

(23) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
(23) Keep and guard your heart with all vigilance and above all that you guard, for out of it flow the springs of life.
Thursday, August 28, 2008

Ayat Hafalan 25-31 Ags08

Ibrani 1:1-3
(1)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
(1) NOW FAITH is the assurance (the confirmation, the title deed) of the things [we] hope for, being the proof of things [we] do not see and the conviction of their reality [faith perceiving as real fact what is not revealed to the senses].


(2) Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
(2) For by [faith--trust and holy fervor born of faith] the men of old had divine testimony borne to them and obtained a good report.

(3) Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
(3) By faith we understand that the worlds [during the successive ages] were framed (fashioned, put in order, and equipped for their intended purpose) by the word of God, so that what we see was not made out of things which are visible.



Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yak 2:14-26)
Yakobus 14:26
(26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
(26) For as the human body apart from the spirit is lifeless, so faith apart from [its] works of obedience is also dead.

Tuesday, August 26, 2008

Kemenangan Di Dunia Kerja

Ringkasan Kotbah Bp.Rubin Ong

Kata bekerja berasal dari kata AVODA atau ”worship” yang berarti penyembahan.

Ada 3 espresi dari penyembahan: word (Firman), work (pekerjaan), family (keluarga). Semuanya harus menjadi 1 kesatuan sehingga menjadi Penyembahan yang berkenan. Waktu kita bekerja, bekerja sesuai dengan Firman dan tetap memperhatikan keluarga sebagai pendukung. Jika kita sukses tapi kalau dalam keluarga kita hancur, maka kesuksesan kita tidak berarti apa-apa.

Bagaimana menang dalam dunia kerja ?

1. Miliki NILAI yang kuat dalam pekerjaan.
Nilai adalah prinsip-prinsip Firman yang kita aplikasikan dalam pekerjaan sehingga nilai tersebut menjadi hidup dan nampak dalam hasil kerja kita. (I Timotius 6 : 6-10). Banyak nilai yang bisa kita aplikasikan dalam bekerja. Salah satunya adalah KESEDERHANAAN. Tampil secara sederhana dalam perkataan, perbuatan dan tingkah laku.

2. Miliki tujuan dalam bekerja.
Tujuan kita adalah bekerja untuk Tuhan, maka Tuhan akan memberkati tangan kita menjadi sukses. Setelah sukses kita harus jadi berkat buat orang lain. Kita harus mempunyai tujuan dalam bekerja yaitu menolong atau membantu sesama kita agar mereka juga mengalami kasih Allah didalam hidup kita.
Sunday, August 24, 2008

Blind Boy : Good Story

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, 'Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?'

The man said, 'I only wrote the truth. I said what you said but in a different way.' What he had written was: 'Today is a beautiful day and I cannot see it.'

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing?

Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?

Moral of the Story: Be thankful for what you have. Be creative. Be innovative. Think differently and positively.

Invite others towards good with wisdom. Live life with no excuse and love with no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile. Face your past without regret. Handle your present with confidence. Prepare for the future without fear. Keep the faith and drop the fear.

Great men say, 'Life has to be an incessant process of repair and reconstruction, of discarding evil and developing goodness…. In the journey of life, if you want to travel without fear, you must have the ticket of a good conscience.'
The most beautiful thing is to see a person smiling… And even more beautiful is, knowing that you are the reason behind it!!!
Thursday, August 21, 2008

Ayat Hafalan 18-24 Ags 08

I Tesalonika 5:17
(17) Tetaplah Berdoa.

Matius 7:7-8

(7) Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
(7) Keep on asking and it will be given you; keep on seeking and you will find; keep on knocking [reverently] and [the door] will be opened to you.

(8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
(8) For everyone who keeps on asking receives; and he who keeps on seeking finds; and to him who keeps on knocking, [the door] will be opened.

Mazmur 139:14, 23-24
(14) Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
(14) I will confess and praise You for You are fearful and wonderful and for the awful wonder of my birth! Wonderful are Your works, and that my inner self knows right well.

(23) Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
(23) Search me [thoroughly], O God, and know my heart! Try me and know my thoughts!

(24) lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
(24) And see if there is any wicked or hurtful way in me, and lead me in the way everlasting.
Wednesday, August 20, 2008

Jika Bukan Tuhan Yang Membangun Rumah…

Saya setuju dengan artikel yang saya dapat ini, apalagi judul nya "Jika bukan TUHAN yang membangun rumah...". Tanpa TUHAN sudah pasti kita sia-sia. Yuk, mari kita simak artikel berikut ini.

Satu tanda sebuah pertumbuhan ekonomi adalah pertambahan proyek-proyek pembangunan. Dan dalam ekonomi Ilahi, berlaku hal yang sama. Bagaimanapun juga kita mengukur pertumbuhan dan perkembangan rohani, terutama dalam pernikahan dan keluarga kita, satu hal sudah pasti: "Jika Tuhan tidak membangun rumah, para pembangunnya bekerja sia-sia". Begitulah jalan yang ditempatkan Raja Salomo yang bijaksana dalam Mazmur 127.

Dia tahu bahwa kita perlu untuk mengingatnya secara terus-menerus di dalam hati: Kita bergantung kepada Allah secara total untuk membangun pernikahan dan keluarga kita. Tanpa kebergantungan yang sedemikian total kepada-Nya, seluruh seminar-seminar pernikahan, prinsip-prinsip Alkitabiah dan kegiatan-kegiatan gereja akan hancur dalam kegagalan. Jadi seperti apakah jenis kebergantungan total kepada Allah ini? Jika kita tidak mau "bekerja dengan sia-sia" dalam pernikahan dan keluarga, bagaimana kita dapat mempercayai Dia dalam segala aspek hidup kita? Dalam Mazmur 127, Raja Salomo memberikan blueprint ilahi untuk iman pernikahan dan keluarga. Blueprint bangunan ini berisi tiga pondasi rohani yang harus kita letakkan dalam membangun kehidupan iman pernikahan dan keluarga kita.

1. Pondasi Iman Pertama: Adalah suatu kenyataan bahwa dengan kemampuan kita sendiri, tidak cukup untuk membangun pernikahan dan keluarga kita. (Mazmur 127:1)

"Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga."

Kebanyakan dari kita berpikir bahwa dengan hanya menghadiri lebih banyak seminar pernikahan atau mempelajari lebih banyak prinsip-prinsip alkitab, maka pernikahan dan keluarga kita akan tumbuh subur. Namun walaupun hal-hal ini penting, tanpa suatu kesadaran untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan sang empunya langit dan bumi, semua usaha baik yang kita lakukan tidak akan berguna dan rumah tangga kita akan berakhir runtuh dalam kehancuran, seperti banyak dialami banyak pernikahan Kristen pada umumnya.

Sejalan dengan kebenaran Allah untuk pernikahan dan keluarga, kita perlu mencari Allah dalam pujian dan doa yang bergantung pada basis regular. Karena hanya Dia sendirilah yang dapat "membangun" dan "berjaga-jaga" atas pernikahan dan keluarga kita. Satu-satunya cara kita dapat sungguh-sungguh merefleksikan citra Allah dalam pernikahan kita adalah dengan membangun suatu hubungan iman dengan Dia dan dengan satu sama lain.

2. Pondasi Iman Kedua: Belajar untuk hidup dengan tidak membiarkan hidup Anda terjebak rutinitas yang padat dan sindrom gila kerja. (Mazmur 127:2)

"Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur."

Sangat mudah untuk terjebak dalam rutinitas dan jadwal kerja yang padat untuk mendapat lebih dan lebih banyak barang: setiap hari bekerja lebih dari 12 jam atau keluarga-keluarga dimana para suami dan istrinya yang setiap hari pergi ke tempat kerja dengan terburu-buru dan menempatkan mereka pada lingkungan dengan gaya hidup materialistis, berusaha mendapatkan lebih banyak materi dan berharap melalui hal itu kebahagiaan keluarga dapat terus terjaga.

Namun pada kenyataannya, dan ini adalah suatu hal yang menyebalkan, tidak ada satupun dari pengejaran kita melalui kerja keras yang kita lakukan dapat memberikan sukacita dan kepenuhan yang berlimpah, yang sesungguhya merupakan kerinduan Allah sendiri untuk memberikannya secara cuma-cuma kepada kita. Tuhan tidak hanya menyediakan waktu bagi kita untuk beristirahat, namun lebih daripada itu IA juga menyediakan segala kebutuhan kita saat kita sedang beristirahat: pemulihan secara fisik dan emosional; pembaharuan visi dan kesegaran rohani; berkat yang baru dan indah setiap hari. Dengan semua hal yang Tuhan janjikan ini, sungguh mengherankan bukan jika banyak orang Kristen yang terkapar di bawah tekanan gaya hidup yang dianutnya? Jika kita beranjak dari tekanan peperangan rohani dalam pernikahan kita, demi kemuliaan Tuhan, maka kita harus meninggalkan gaya hidup kita yang mengikat kita seperti lem tikus dan mempercayakan Tuhan untuk menyediakan semua yang kita perlukan.

3. Pondasi Iman Ketiga: Cara kita memandang anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita, saat Tuhan sendiri menghargai mereka sebagai milik pusaka-Nya. (Mazmur 127:3-5)

"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang."

Tuhan telah berketetapan untuk memuliakan diri-Nya dari generasi ke generasi. Dan saat Ia menganugerahkan kita dengan anak-anak, Ia juga memberikan kuasa kepada kita untuk memperlengkapi milik pusaka Allah ini demi kemuliaan-Nya. Anak-anak tidak hanya sekedar menjadi hadiah dan berkat dari Tuhan bagi kita, namun mereka juga adalah pengikut Kristus yang spesial, yang dipersiapkan untuk tahun-tahun yang akan datang, yang akan ditembakkan bagaikan anak panah melawan musuh-musuh kerajaan sorga.

Dalam terang Tuhan dan ketetapan hati Tuhan yang berkomitmen sepenuhnya untuk membangun pernikahan Anda dan keluarga, beberapa pertanyaan yang harus selalu mengikuti doa-doa yang Anda panjatkan adalah:

1. Siapa yang Anda percayai untuk membangun pernikahan dan keluarga Anda? Orang tua Anda? Pasangan Anda? Pekerjaan Anda? Tabungan atau hasil investasi Anda? Gereja Anda? Hal-hal yang lainnya? Atau Tuhan sendiri?

2. Seberapa banyak waktu khusus yang Anda berikan setelah bekerja? Apakah itu saat untuk bermain ataupun beristirahat. Kapan Anda perlu untuk menyesuaikan kembali prioritas dan jadwal Anda untuk keluar dari rutinitas?

3. Jika Tuhan telah menganugerahkan anak-anak pada keluarga Anda, bagaimana cara pandang Anda terhadap mereka? Sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menjadi beban bagi keluarga? Atau sebagai pengganggu? Atau sebagai pemberian dan berkat dari Tuhan yang diciptakan untuk membawa dampak bagi dunia membawa kemuliaan dan kerajaan Tuhan?

Hendaklah kiranya Anda tidak pernah berhenti untuk mengandalkan Tuhan dalam kehidupan keluarga Anda. Karena jika bukan Tuhan yang membangunnya, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. (jawaban.com)

Thursday, August 14, 2008

Ayat Hafalan 11-15 Ags 08

Ayat hafalan yang mengena minggu ini :

Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh.
For You have been a shelter and a refuge for me, a strong tower against the adversary. (Mzm 61-4)

Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.
David was greatly distressed, for the men spoke of stoning him because the souls of them all were bitterly grieved, each man for his sons and daughters. But David encouraged and strengthened himself in the Lord his God. (1 Sam 30:6)

TUHAN, dengarlah kami, ampunilah kami, perhatikanlah kami dan bertindaklah segera! Janganlah lama-lama, supaya semua orang tahu bahwa Engkaulah Allah. Sebab Yerusalem dan umat-Mu adalah milik-Mu yang khas."
O Lord, hear! O Lord, forgive! O Lord, give heed and act! Do not delay, for Your own sake, O my God, because Your city and Your people are called by Your name. (Daniel 9:19)
Monday, August 11, 2008

Kungfu Panda Wisdom

Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yang dinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you're special. Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, You just need to believe.

2. Teruslah kejar impianmu.
Po, panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri?
Seperti kata Master Oogway, kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.
Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4. Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.
Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.

5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.
Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.
Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7. Keluarga sangatlah penting.
Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?
Thursday, August 7, 2008

Ayat Hafalan 4-9 ags 08

Ayat Hafalan Minggu ini ".....di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku..." (Yoh 17:24)

Ayat-ayat yang me-rhema minggu ini :
"Berserulah kepadaKU, maka AKU akan menjawab engkau, dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal besar dan tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui." [Yer 33 :3 ]

"Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan TUHAN. / By this we shall come to know (perceive, recognize, and understand) that we are of the Truth, and can reassure (quiet, conciliate, and pacify) our hearts in His presence " [1 Yoh 3 : 19]

Sunday, August 3, 2008

Ayat Hafalan Selama Bulan Juli 2008

Minggu pertama :
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Mazmur 90:12)

Minggu kedua :
"....tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah pada loh-loh batu supaya orang sambil lalu dapat membacanya" (Habakuk 2:2)

Minggu ketiga :
"sebab Firman itu dekat padamu yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu" (Roma 10:8)

Minggu keempat :
"TUHAN, pada waktu pagi engkau mendengar suaraku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-MU, dan aku menunggu-nunggu". (Mzm 5:4)

Friday, August 1, 2008

Hidup Dalam Wilayah Iman

Ini artikel bagus tentang Musa, kiranya saya dan anda semua dapat belajar tentang iman Musa kepada TUHAN. (Iwan D)

Ingatkah kita pada seseorang yang pernah melihat laut Merah terbelah di depan mata kepalanya sendiri? Seseorang yang pernah memimpin rombongan besar suatu bangsa yang selalu mengeluh, orang yang berbicara dengan Allah berhadapan muka seperti sepasang sahabat… Apa yang kira-kira akan dia katakan tentang seluruh perjalanan hidupnya?

Kisah kehidupan setiap orang itu ditulis dalam resiko, resiko yang diambilnya maupun yang dihindarinya. Kalau saja Musa tidak pernah melangkah keluar dari wilayah amannya dan berjalan dalam wilayah iman, kita tidak akan pernah membaca kisahnya sampai saat ini.

Saat terbesar kehidupan Musa bersama Allah adalah ketika Musa berhadapan dengan semak yang menyala-nyala itu. Keputusan yang diambilnya saat itulah yang memulai 40 tahun perjalanan berikutnya, keputusan yang membawa perjumpaan dengan Allah setiap harinya. Namun keputusan itu tidaklah mudah bagi Musa, ada keadaan-keadaan yang harus dia atasi demi keluar dari wilayah amannya dan memasuki wilayah iman:

Musa mengatasi pengalaman-pengalaman di masa lalunya.
Musa dilahirkan dalam keadaan yang serba tidak pasti, tapi setelah ibunya menyerahkan dia ke dalam tangan Allah dan ia dipungut oleh putri Firaun, dia dibesarkan di wilayah yang paling aman, istana raja Mesir, dan tidak kekurangan apapun.

Lalu ketika dia berusia 40 tahun, dia mengambil resiko, dia tinggalkan wilayah amannya itu dan berusaha melakukan sesuatu yang besar sendirian demi bangsanya. Dia bunuh seorang Mesir untuk membela sesama orang Ibrani. Apakah hasil dari usaha manusiawinya itu? Firaun ingin membunuhnya dan dia terpaksa kabur meningalkan semua yang pernah dikenalnya.

Selama 40 tahun berikutnya dalam pembuangan di padang gurun, Musa tidak pernah melupakan pengalaman-pengalamannya di Mesir. Dia menjadi ibarat kucing yang pernah menduduki kompor panas dan bertekad untuk tidak pernah lagi menduduki kompor. Musa merasa sudah mendapat pelajaran: Mesir bukanlah tempatnya.

Musa mengatasi kenyamanan masa sekarangnya.
Sungguh menyedihkan bila seseorang menjadi terlalu puas dengan kehidupannya yang sekarang, pemikiran-pemikirannya yang sekarang, dan perbuatan-perbuatannya yang sekarang, padahal pintu jiwanya tidak pernah berhenti diketuk oleh hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih besar bagi Allah.

Setelah Musa meninggalkan Mesir, dia habiskan 40 tahun di padang gurun Midian, menggembalakan domba. Dia menjadi terbiasa dengan gaya hidup di sana. Padang gurun menjadi satu lagi wilayah aman bagi Musa. Yitro menjadikannya anggota keluarga, Musa mengambil salah seorang putri Yitro menjadi istrinya dan merekapun mendapatkan seorang putra.

Musa mempunyai posisi yang aman dalam bisnis keluarganya. Karena Yitro tidak mempunyai putra, kelihatannya Musalah yang akan menjadi pewarisnya. Mengapa dia mau meninggalkan semuanya itu? Dia telah membentuk kehidupan baru bagi dirinya sendiri, dan walaupun kehidupannya bukan di istana, toh itu sangat nyaman. Dia telah selamanya meninggalkan Mesir dan beralih sepenuhnya, atau demikianlah pikirnya.

Musa mengatasi ketakutan masa depannya.
Ketika Allah memanggil Musa lewat semak yang menyala-nyala dan menyuruhnya untuk kembali ke Mesir melaksanakan misi kehidupannya, Musa merasa sama sekali tidak memenuhi syarat untuk memimpin. Dia tidak merasa aman tentang dirinya sendiri dan tentang masa depannya. Akibatnya dia mempunyai banyak pertanyaan dan keraguan:
• “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun?” (Kel 3:11)
• “Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel 3:13)
• “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku?” (Kel 4:1)
• “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara” (Kel 4:10)

Setiap kali Musa mengutarakan keberatannya terhadap panggilan Allah, Allah menjawabnya dengan tuntas. Tetapi Musa tetap saja takut sampai akhirnya Musa berseu, “Ah , Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus.” (Kel 4:13). Untungnya bagi Musa, Allah tidak mau ditolak. Dan walaupun takut, Musa akhirnya melakukan satu-satunya hal yang membantu ketika kita merasa tidak pasti tentang masa depan kita: dia bersandar kepada Allah, Dia yang mengetahui masa depan kita secara rinci. Akhirnya Musa meninggalkan wilayah nyamannya dan kembali ke Mesir. Akibatnya bangsa Israel dibebaskan dari tangan Firaun.

Beberapa kebenaran dari perjalanan Musa yang dapat kita renungkan:
• Kita tidak akan secara alami meninggalkan wilayah aman kita. Tapi kalau saja kita tidak pernah meninggalkannya, kita tidak akan mengalami hal-hal besar yang menanti kita di depan sana. Hanya karena kita tidak mau melakukan sesuatu bukan berarti bahwa kita tidak seharusnya melakukannya.
• Pertumbuhan dimulai ketika kita meninggalkan wilayah aman. Kita jadi lebih rendah hati dan lebih bergantung padaNya.
• Wilayah yang paling aman itulah yang merampas saat-saat serta kenangan-kenangan terbesar kita. Allah menghendaki lebih dari kita. Dia mau kita meninggalkan padang gurun serta memasuki tanah perjanjian, negeri ‘lebih dari cukup’. Dua puluh tahun lagi, kita akan lebih kecewa karena resiko-resiko yang tidak kita ambil ketimbang karena resiko-resiko yang kita ambil. Kalahkanlah penyesalan di hari esok denga maju terus serta memasuki wilayah iman hari ini. (jawaban.com)