Monday, November 24, 2008

Burung Adalah Pekerja Keras

Jam kerja kita tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jam kerja burung, apalagi jika dilihat dari keseriusan kerjanya. Mengapa? Karena beberapa jenis burung bekerja di musim panas selama sembilan belas jam sehari. Tanpa mengenal lelah mereka melahap semua serangga yang ada!

Burung Murai bangun sekitar jam 2.30 setiap pagi. Dia mengepakkan sayapnya dan langsung mulai bekerja saat itu juga, dan tidak berhenti hingga jam 21.30 malam. Total 19 jam! Selama waktu itu ia memberi makan kepada anak-anaknya sebanyak 206 kali sehari, bolak-balik!

Burung Hitam mulai bekerja pada waktu yang hampir bersamaan dengan burung Murai, tetapi ia berhenti lebih awal. Burung Hitam mulai berkicau jam 7.30 pagi. Dan dalam jangka waktu jam kerja selama 17 jam, ia bolak-balik sebanyak 100 kali memberi anaknya makan.

Burung Tikus bangun sekitar jam 3.00 pagi dan berhenti kerja jam 21.00 malam. Burung Tikus adalah pekerja yang sangat cekatan. Selama bekerja 18 jam itu, ia bisa menghidangkan ke hadapan anak-anaknya ulat bulu sebanyak 417 ekor! Semua itu dikerjakannya di hari yang panas dengan ketekunan yang luar biasa!

Didalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang salah menasirkan ayat yang mengatakan, "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" Mereka menafsirkan "tidak menabur dan tidak menuai" artinya tidak sesukses orang-orang dunia yang memang giat bekerja. Mereka mengharapkan Tuhan memberi mereka makan secara ajaib tanpa perlu kerja keras. Ini penafsiran yang keliru! Bila kita simak dengan teliti maka hal yang ingin ditekankan oleh Tuhan Yesus adalah hal jangan kuatirnya, seperti halnya burung yang tidak pernah kuatir akan makanannya, namun hari lepas hari mereka bekerja mencari makanan mereka dan mereka mendapatkannya. Menanggapi pendapat banyak orang Kristen bahwa kita tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok kita, J.G. Holland berkata, "Allah memberikan setiap burung makanannya, tetapi Ia tidak meletakannya di sarangnya." Artinya kita harus berusaha dan bekerja untuk dapat hidup didunia ini, kita tidak bisa hanya berpangku tangan saja dan berdoa minta Tuhan menurunkan berkatNya secara ajaib dari Sorga. Kita perlu merenungkan juga apa yang dikatakan oleh Stephen Leacock berikut ini, "Saya sangat percaya pada keberuntungan, dan saya melihat, semakin keras saya bekerja semakin banyak keberuntungan yang saya peroleh."

Mari kita belajar dari burung yang mau bekerja keras dan tidak pernah kuatir.

Sebuah Baut Kecil

Sebuah baut kecil, bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula.

Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.

Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.

Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"

Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga.

Hidup Adalah Pilihan

"benar-benar artikel yang menarik tentang sebuah pilihan hidup."

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman."

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :
Hidup adalah pilihan. 2 sisi yang berbeda, tidak searah, dan bertolak belakang.Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya. dan tidak ada yang hanya memiliki segi positifnya saja.

Menentukan pilihan bagaikan bermain judi, penuh spekulasi, salah sedikit, kita akan masuk ke keadaan yang tidak menyenangkan. Namun itu bukanlah akhir dari segalanya, karena inilah hidup. Kita harus berani untuk menghadapinya.

Hidup seperti koin yang bersisi dua, setiap saat penuh dengan teka-teki dan misteri. Namun sebagai orang bijak, pilihan harus diambil dengan ketulusan hati nurani..... DAN JANGAN MENYESAL !!!!! karena tidak ada orang yang sukses di muka bumi ini, tanpa pilihan-pilihan hidup yang salah.

Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan maka hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan maka pilihlah dengan bijak.

Sukses adalah rangkaian kebijaksanaan dalam hidup dan perbuatan. Dan Sukses adalah keberanian untuk memilih dan menjalankan pilihan tersebut.
Tuesday, November 18, 2008

Sayang, kamu ingin apa?

Dua orang yang baik, tapi mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik. Sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari dan memasak bubur yang panas untuk ayah karena lambung ayah yang tidak baik, sehingga pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, ia masih harus memasak sepanci nasi untuk kami anak-anaknya karena kami sedang dalam masa pertumbuhan dan perlu makan nasi. Dengan begitu kami tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore ibu selalu membungkukkan badannya menyikat panci. Setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun.

Menjelang malam dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci sehingga lantai di rumah tampak lebih bersih dibandingkan sisi tempat tidur orang lain. Tiada debu sedikitpun meski kami berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun di mata ayahku, ia (ibu) bukanlah pasangan yang baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali, ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan dan tidak memahami ibu. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat liburpun masih mengatur jadwal sekolah anak-anak dan mengatur waktu istirahat anak-anak. Ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, selalu mendorong kami anak-anaknya untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi dan suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik. Di mata kami anak-anaknya, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedangkan ibu dengan aksi untuk menyatakan kepedihan yang mereka jalani di dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan. Sedangkan aku juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar

Setelah dewasa saya akhirnya memasuki usia perkawinan. Dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga. Menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sendiri sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih atau masakan yang tidak enak. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata, "Istriku, temani aku sejenak mendengarkan alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa kamu tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?" Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung. Kata-kata ini sangat tidak asing di telinga saya. Dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata seperti itu kepada ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. "Apa yang kamu inginkan?" Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku dan teringat akan ayah saya. Ia tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya sewaktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus- menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun jarang menemaninya. Ia sibuk mengurus rumah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan saya juga menggunakan caraku, berusaha mencintai suamiku, dengan cara yang sama seperti ibu.

Perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita 'Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?' Kesadaran saya membuat saya mengambil keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami menemaninya mendengarkan musik. Dan dari kejauhan saat memandangi kain pel di atas lantai, saya seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kamu butuhkan?", "Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengarkan musik. Rumah kotor sedikit tidak apa-apalah. Nanti saya carikan pembantu untukmu. Dengan begitu kau bisa menemaniku!" ujar suamiku. "Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu...." dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. "Semua itu tidak penting!" ujar suamiku. "Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan. Hal ini membuat saya benar-benar terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan kami masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia. Kami memiliki cara masing-masing bagaimana saling mencintai, namun bukannya cara pasangan kami.

Jalan kebahagiaan

Semenjak saat itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami dan meletakkannya di atas meja buku. Begitu juga dengan suamiku, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya waktu senggang menemani pasangan mendengarkan musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat dan lain-lain.

Beberapa hal cukup mudah untuk dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit. Misalnya: 'Dengarkan aku, jangan memberi komentar'. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang saya akan membuat dirinya tampak seperti orang bodoh. Menurutku ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Tapi saya mentaati suami untuk tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya. Kalau tidak saya hanya boleh mendengarkan dengan serius, menurut sampai tuntas. Demikian juga ketika salah jalan. Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih santai daripada mengepel. Dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan. Misalnya menyetel musik ringan. Dan kalau lagi segar bugar, saya merancang perjalanan ke luar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal yang merupakan kebutuhan kami bersama. Setiap kali ada pertikaian, kami selalu pergi ke taman flora. Dan aktivitas itu selalu bisa meredakan gejolak hati masing-masing. Sebenarnya kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kami menapak ke tirai merah perkawinan. Kembali ke taman bisa mengembalikan suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanyalah pada pasangan, 'Apa yang kau inginkan'. Kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia. Mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pasangannya, bukan mencintai pasangannya seperti keinginan pasangannya sendiri. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pasangan tidak dapat merasakannya. Akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pasangannya! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri. Perkawinan yang baik pasti dapat kita harapkan.


Sumber : Erabaru (Sumber Secret China)

Menangani Perselisihan dengan Pasangan

"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Filipi 2:3-4.

Saya bisa menjamin bahwa satu hal yang pasti dialami oleh pasangan manapun adalah konflik. Konflik merupakan bagian yang normal dalam sebuah hubungan, karena itu sangat penting untuk kita belajar bagaimana menyelesaikannya tanpa menimbulkan luka emosional. Menyelesaikan setiap konflik dengan pasangan mungkin tampak tidak mungkin pada awalnya. Anda mungkin berpikir, "Yah, kamu tidak tahu sih pasanganku seperti apa..." Bagaimanapun juga, dengan melakukan hal-hal penting ini, anda tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan anda untuk menyelesaikan konflik, namun juga bisa menurunkan tingkat luka emosional yang ditimbulkannya. Istri saya, Erin dan saya menemukan ini pada saat kami sedang mengalami puncak dari satu konflik yang terjadi.

Selama masa belajar saya untuk gelar Doktor, saya diminta untuk mengambil sebuah kelas riset. Saya tahu bahwa saya berada dalam masalah saat di pertemuan kelas yang pertama, profesor pengajar saya membicarakan tentang sederet daftar konsep-konsep statistik dan formula-formula yang kami harus tahu. Perut saya semakin sakit saat saya merasa tidak pernah mendengar istilah-istilah yang dia katakan. Saya pulang ke rumah dan memberitahu Erin bahwa saya tidak akan mengikuti kelas itu. Namun Erin berpikir bahwa berhenti dari kelas itu bukanlah jawabannya, dan dimulailah perselisihan itu.

Konflik itu bisa saja berlangsung lebih lama kalau putri saya, Taylor, yang baru berusia 2 tahun tidak ikut campur, "Cukup semuanya!" dia berteriak dan mendorong saya mundur dengan sendok kayu. Kejutan karena ditegur oleh seorang anak yang berusia 2 tahun menyebabkan kami berdua tertawa. Waktu saat-saat tegang itu sudah reda, Erin dan saya menyadari bahwa ketidaksetujuan kami satu sama lain telah menyebabkan luka secara emosional. Sudah jelas bahwa kami tidak melakukan apa yang ada dalam Filipi 2 dan saling menghormati satu sama lain. Sebagai hasilnya, kami menggunakan langkah-langkah berikut ini untuk menyelesaikan konflik kami.

Time Break!

Bagi banyak pasangan, saat beradu argumen adalah saat-saat dimana emosi sedang berada pada tingkat tinggi. Karena hal itu dapat menyebabkan kita sulit untuk berpikir jernih, perpisahan secara fisik (adanya jarak secara fisik) anda dan pasangan untuk sementara waktu dapat membantu menstabilkan emosi anda. Namun, jangan pernah meninggalkan pasangan anda tanpa sebelumnya memberi penjelasan atau tanpa persetujuan untuk membahas diskusi tersebut setelah anda berdua menjadi tenang kembali.

Berkomunikasi untuk Mengungkapkan Kebutuhan-kebutuhan Tersembunyi

Erin dan saya tidak akan pernah dapat menyelesaikan ketidaksetujuan kami masing-masing tanpa membuat transisi dari konflik yang intens kepada komunikasi yang terarah. Dengan kata lain, kami perlu melalui perdebatan dan keegoisan menuju kepada dialog yang produktif. Cara terbaik untuk melakukan ini ditemukan pada Yakobus 1:19 "... ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." Mulailah komunikasi anda dengan tujuan untuk saling mendengarkan dan mengerti satu sama lain. Selagi anda berusaha untuk menjelaskan konflik yang sedang terjadi, ulangilah apa yang pasangan anda katakan dengan bahasa atau kata-kata anda sendiri, posisikan diri anda sebagai pasangan anda. Dengarkanlah secara aktif dan mengerti akan apa yang dikatakan pasangan anda. Jika dilakukan secara bergantian, hal ini akan memperlambat proses dan mengijinkan masing-masing merasa didengarkan dan dimengerti.

Setelah percakapan mulai nyaman (bisa saling mendengarkan dan saling mengerti), cobalah untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan yang tersembunyi. Masing-masing dari kami (Erin dan saya) mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sulit untuk diekspresikan. Saya tidak mau menghabiskan waktu tambahan untuk menjalani kelas yang sulit, sementara Erin ingin agar kami berdua bisa menyelesaikan pendidikan kami tepat waktu. Mengenali kebutuhan-kebutuhan tersembunyi itu sangat penting bagi kita untuk menemukan solusi dari konflik yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini akan dapat membantu anda untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan yang tersembunyi, "Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" atau "Apa yang harus berubah atau apa yang harus terjadi untuk memenuhi kebutuhanmu?"

Menciptakan "Win-win" Solution

Sekali emosi anda telah stabil dan komunikasi yang positif telah terbangun, langkah ketiga dalam menyelesaikan konflik adalah dengan menemukan "win-win" solution. Ini bukan sepenuhnya sama dengan kompromi. Terkadang berkompromi menciptakan solusi jangka pendek dimana setiap orang yang terlibat tidak merasa senang dengan hasilnya, selain itu mungkin saja masalah-masalah yang lebih penting malah justru terabaikan. Dalam situasi "win-win", kebutuhan kedua pihak terpenuhi. Dalam konflik kami berdua, "win-win solution" ditemukan ketika kami memutuskan bahwa saya akan bertanya pada 2 orang profesor yang berbeda tentang pendapat mereka jika saya melewatkan kelas itu. Setelah mencari nasehat bijak, kami berdua merasa bahwa keputusan yang tepat adalah saya tetap mengambil kelas itu. Setelah dijalani, ternyata saya mendapat nilai "A", dan sekali lagi, Erin ternyata benar! "Win-win solution" dapat diciptakan dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda. Cara-cara seperti "brainstorming" dan daftar pro-kontra dapat digunakan dan biasanya cukup efektif.

Resolusi

Setelah menemukan "win-win solution", proses resolusi belum selesai sampai anda memastikan bahwa ada pengampunan di antara anda dan pasangan. Langkah ini sangat penting karena luka emosional dapat terjadi saat kemarahan atau kekesalan masih berlanjut setelah konflik berakhir. Meskipun perasaan tersakiti hanya sekali setelah adu argumen selesai, sangatlah penting untuk tidak membiarkan matahari terbenam sebelum amarah anda padam (Efesus 4:26). Karena itu, cobalah untuk mengidentifikasikan kontribusi anda dalam masalah itu dan mintalah pengampunan.

Ketika semua itu tidak berhasil...

Jika anda telah melakukan hal-hal di atas dan tidak berhasil menyelesaikan konflik, atau jika anda telah lelah secara fisik dan emosional, mungkin sudah waktunya untuk mencari pertolongan seperti konselor atau pastor, yang dapat mnjadi penengah dan dapat menolong terjadinya rekonsiliasi. Ingatlah: "Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak." (Amsal 12:15).

Monday, November 17, 2008

Mengembangkan Komunikasi Yang Efektif

Waktu itu siang hari terik di bulan September. Seorang wanita, klien saya yang terakhir - datang di tengah kesibukan saya sebagai pengacara. Dia menolak untuk mengatakan kepada sekretaris saya mengenai masalahnya dan sampai saya menawarkan kopi kepadanya saya masih belum tahu persoalannya. Ia terlihat tenang dan cekatan, tetapi itu tidak banyak menjelaskan masalahnya. Sudah lama saya berhenti mencoba mempelajari klien-klien saya dengan cara melihat penampilan mereka.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya saya.
"Saya pikir pernikahan saya sudah berakhir'"
"Sudah berapa lama Anda menikah?"
"Tujuh belas tahun'"
"Anda mempunyai anak?"
"Seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun dan anak perempuan berumur sepuluh tahun."
"Mengapa hubungan Anda begitu buruk?"
"Suami saya membuat diri saya seperti sebuah pulau."
"Maaf - Bisakah Anda mengulanginya?"
"Dia membuat diri saya bagaikan sebuah pulau. Dia tidak berbicara apa pun kepada saya. Pada tahun-tahun awal pernikahan kami, kami sering mengobrol bersama selama berjam-jam, tetapi sesuatu telah terjadi padanya. Tampaknya dia tidak dapat berbicara kepada saya. Ketika dia pulang kerja saya menanyakan tentang kegiatannya hari itu dan saya mendapat omelan. Sekarang ini semakin parah. Dahulu kami juga mempunyai masalah, tetapi kami selalu dapat membicarakannya. Bagaimana menurut pendapat Anda jika tinggal serumah, seranjang, hidup bersama dengan seseorang yang tidak mau berbicara? Akhirnya jiwa Anda akan mati."

Wanita itu hendak melanjutkan pembicaraannya, tetapi kemudian kopi datang; sewaktu saya menuangkan kopi, pikiran saya melayang kepada klien lain yang duduk di kursi yang sama empat jam sebelumnya.

Saya mengenal Tom dan istrinya dengan baik, ini membuat lebih sulit bagi saya untuk mengerti sosok Tom yang ada di depan saya hari itu. Saya tidak pernah mengira dia seorang yang sangat emosional. Tom telah mencapai puncak profesinya; dalam segala hal ia adalah tipe laki-laki yang ‘serba bisa'. Ia selalu tampak yakin, menguasai diri dengan baik dan beberapa orang mengatakan, sedikit menakutkan.

Namun kedua kalinya Tom masuk ke kantor saya, saya melihat dia menangis. Selembar kertas kusut diserahkan kepada saya seolah-olah kertas itu dapat berbicara. Sebagian perekat masih menempel di belakangnya karena dia menariknya dari pintu lemari es.

Aku perlu waktu untuk berpikir - Aku membawa anak-anak bersamaku. Aku akan pergi selama beberapa hari. Aku akan memberi kabar segera.
Salam sayang, Susan

Saya mendengarkan ketika Tom mencurahkan isi hatinya kepada saya. Tom tidak dapat mengerti masalahnya. Tom berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Mereka memiliki rumah yang bagus, sering mengadakan liburan dan dia benar-benar mencintai istrinya.

Tetapi kertas kusut itu bukan satu-satuinya kertas yang dia bawa. Ketika berusaha mengetahui dimana istrinya berada, dia membuka laci istrinya dan menemukan surat setengah jadi yang ditulis istrinya untuk seorang teman:

Tom dam saya saling mencintai ketika kami menikah. Waktu itu tidak ada kesulitan bagi kami untuk duduk dan bercakap-cakap selama berjam-jam. Bahkan meskipun kami tidak berbicara, ada suatu perasaan bahwa kami tahu apa yang dirasakan pasangan kami. Sulit untuk mengetahui kapan hubungan kami semakin merenggang. Pekerjaan Tom makin menyita waktu dan saya mempunyai anak-anak yang harus diurus. Mungkin hal ini karena saya memberikan banyak perhatian kepada anak-anak dan dia merasa disisihkan, tetapi sejujurnya saya merasa bahwa saya belum berbicara mengenai hal ini kepadanya, bahkan saya belum berbicara kepada siapapun.

Dia pulang kerja dalam keadaan lelah dan hampir tidak pernah menyapa, apalagi bercerita tentang pekerjaannya atau bahkan berpura-pura tertarik pada cerita saya. Saya benci itu. Saya rindu berbicara padanya. Kadang-kadang, setelah kami bercinta, sesaat saya percaya bahwa dia merasa dekat dengan saya dan, ketika kami berbaring, saya mulai menceritakan banyak hal yang ingin saya katakan. Tetapi seringkali, ketika saya mencurahkan isi hati saya, saya menyadari bahwa dia sudah tertidur. Kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Saya belajar hidup tanpa dia. Oh, saya mencuci bajunya, memasak dan berusaha keras untuk menjadi istri baginya, tetapi di dalam hati saya belajar hidup terpisah dari dia. Seolah-olah sesuatu dalam diri saya berkata, "Kamu sendirian - demi kamu dan anak-anakmu, hadapi itu dan belajarlah untuk hidup dengan cara seperti itu".

Saya percaya bahwa apabila cinta telah padam, maka sering kali penyebab kematian yang sebenarnya bukanlah apa yang tampak paling jelas. Tidak semua pernikahan yang hancur disebabkan oleh konflik yang besar, tidak semua orang mengalami masalah seksual atau terlibat perselingkuhan. Tidak, pembunuh sebenarnya sering kali tersembunyi, semata-mata karena mereka tidak berbicara satu sama lain.

Kurangnya komunikasi bukan berarti tidak berbicara sepatah kata pun. Akan tetapi tidak membicarakan hal-hal yang perlu dibicarakan. Dalam banyak pernikahan ada saat di mana salah satu pasangan tidak dapat atau tidak mau membicarakan hal-hal penting dengan pasangannya.

Seorang suami menggambarkan proses hubungan di mana komunikasi telah mati sebagai ‘hubungan yang semakin merenggang'. Mereka dapat menjadi komunikator-komunikator yang andal dalam lingkungan yang lain. Istrinya mempunyai teman-teman di mana dia dapat menceritakan hal-hal yang paling intim dalam hidupnya, dan si suami di tempat kerjanya mungkin menjadi pribadi yang hidup dan menyenangkan, tetapi pasangan itu sendiri hanya sedikit berbicara satu sama lain.

Tidak ada satu pernikahan pun di dunia ini yang belum pernah mengalami hal seperti itu. Ketika kami mengalami masa-masa sulit dalam hubungan kami, Dianne berkata, "Bagaimana mungkin engkau dapat menghabiskan waktu satu jam di telepon dengan seseorang dalam pekerjaan tetapi sulit berbicara dengan saya selama lima menit?"

Segala macam alasan telah dikemukakan perihal mengapa kita merasa begitu sulit untuk berkomunikasi. Bukan rahasia bahwa pria khususnya merasakan bahwa hal itu sulit. Beberapa orang mengatakan bahwa pria mempunyai ketidakmampuan bawaan untuk mengungkapkan isi hati mereka secara mendalam. Mungkin ada benarnya. Tetapi perhatikan seorang laki-laki pada awal perselingkuhannya. Dia duduk dengan sekretarisnya di dalam mobil dan berbicara panjang lebar. Sekretarisnya berkata, "Suami saya tidak pernah berbicara seperti ini kepada saya." Laki-laki itu menjawab, "Istri saya tidak pernah mendengarkan seperti kamu." Apa yang terjadi? Istrinya selalu mengeluh bahwa suaminya hanya sedikit saja berbicara. Apakah tiba-tiba terjadi hal yang sebaliknya? Tidak, ini menunjukkan bahwa pada awal perselingkuhan mereka, pasangan ini tidak saling menerima sebagaimana adanya, namun untuk saat ini perasaan senang membuat mereka banyak berbicara,.

Tidak sulit untuk saling menerima sebagaimana adanya dalam suatu pernikahan. Saya sering bertemu pria dan wanita yang merasa sangat sulit menyediakan waktu untuk bercakap-cakap dan bersedia memberikan apa saja untuk dapat melakukan hal itu. Saya mempunyai seorang teman yang pernikahannya mengalami masa sulit beberapa tahun yang lalu. Dia adalah seorang eksekutif yang sangat sibuk, yang bergairah mendengar bunyi suara telepon dan menghabiskan banyak waktunya dengan berbicara kepada istri dan anak-anaknya. Tetapi itu tidak terjadi begitu saja. Ada masa saat dia merasa bahwa meskipun dia sangat sukses, dia hampir kehilangan semua yang sangat berarti baginya. Selama delapan tahun terakhir dia ‘berkencan' dengan istrinya tiap Selasa malam. Kadang-kadang mengajaknya makan di luar, biasanya tidak ada yang istimewa, tetapi mereka belajar berkomunikasi lagi dan saling menghargai satu sama lain karena mengetahui bahwa pasangannya berharga.

Tentu saja, banyak orang yang mengharapkan seseorang yang bukan hanya sekedar berbicara kepada mereka, tetapi seseorang yang sungguh-sungguh mau mendengarkan. Salah satu penghargaan terbesar yang dapat Anda berikan kepada seseorang adalah mendengarkan dia dengan tatapan mata Anda. Apabila kita melakukan itu, seolah-olah kita berkata, "saya mempedulikanmu." Sikap itu memberikan penghargaan kepada orang lain.

Dan bagaimana dengan dua klien saya yang datang ke kantor saya pada hari yang sama di bulan September itu? Yang wanita menelepon saya keesokan harinya untuk meminta kami menunda segala sesuatunya untuk sementara. Tetapi bagaimana dengan laki-laki yang membawa kertas kusut itu? Dia melakukan suatu hal yang aneh. Dia menulis surat kepada istrinya. Kadang-kadang Anda dapat mengatakan berbagai macam hal secara tertulis yang akan lebih sulit bila dilakukan dengan berhadapan muka. Inilah sebagian dari isi suratnya:

... Aku tidak mengira akibat yang ditimbulkan oleh keenggananku berbicara denganmu terhadap hubungan kita. Hidup telah menjadi begitu sibuk dan aku selalu mengira akan ada hari esok. Tetapi bagiku sekarang hari esok itu tidak akan datang. Aku hanya dapat membayangkan bagaimana kamu merasa begitu terasing dan aku tahu kamu tidak mempunyai alasan untuk percaya bahwa aku dapat berubah. Tetapi aku telah kehilangan kamu dan aku ingin kamu kembali.

Dua tahun kemudian, saya mendapat surat dari istri Tom. Dia berkata, "Saya bodoh bila mengatakan bahwa segala sesuatunya indah - banyak hal yang harus kami hadapi. Tetapi sekarang kami dapat membicarakan segala sesuatu. Apabila kami merasa terluka, kami mengatakan demikian, dan kami belajar untuk menyediakan waktu untuk berbicara. Dia telah banyak beruah. Saya tidak tahu apa yang Anda katakan kepadanya di kantor, tetapi semua itu berhasil." Sebenarnya saya tidak mengatakan apapun.

Hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk mengembangkan komunikasi yang efektif :

  • Cobalah menyediakan waktu satu malam dalam seminggu untuk Anda berdua. Pelihara kebiasaan itu dalam hidup Anda.
  • Dengarkan dengan tatapan mata Anda.
  • Berjalan bersama-sama lebih sering.
  • Jangan membingungkan pasangan Anda yang membutuhkan waktu dengan menolaknya.

Sumber : Sumber : Rob Parsons – 60 Menit Pernikahan

Kekuatan Berkata-Kata

Bacaan Firman Tuhan hari ini: Yosua 1:1-18

M1(Menerima):
Perkataan adalah kekuatan daya cipta. Ketika Allah berfirman, “Jadilah, “maka jadilah seperti yang difirmankan Tuhan tersebut. Jika Allah berkata, “Jadilah terang,” maka terang pun jadi. Perkataan kita adalah suatu kekuatan. Perkataan iman akan mendatangkan berkat. Perkataan yang sia-sia akan mendatangkan hasil yang negatif. Jika kita ingin berhasil di dalam hidup kita, maka kita harus bisa mengendalikan perkataan kita. Itulah sebabnya, Salomo berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya,”(Amsal 18:21). Biarlah perkataan kita mendatangkan berkat Allah, karena itu melalui 4M Minggu ini, kita akan belajar tentang kekuatan berkata-kata.

Pokok doa hari ini:
Doakanlah orang-orang Kristen untuk memperkatakan atau merenungkan firman Tuhan di dalam hidup mereka.

Ayat hafalan minggu ini:
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung,” (Yosua 1:8).

Hal yang Kecil Menjengkelkan

Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat, sedangkan sebagian besar meninggal saat terjadinya serangan atas WTC - untuk menceritakan pengalamannya.

Pada pertemuan pagi itu, pimpinan keamanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat ... dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai :

HAL-HAL YANG KECIL :

Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK.
Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya.
Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu.
Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas.
Seorang karyawan ketinggalan bus.
Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian.
Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan.
Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering.
Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama.
Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.

Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah: sebuah sepatu baru.

Saya
memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester.

Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini.
Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon ... dan semua HAL KECIL yang mengganggu - sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini.

Jika suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda!

Kiranya Tuhan selalu memberkati saudara dengan semua hal-hal kecil yang tampaknya mengganggu dan semoga saudara mengingat akan maksud dari semua peristiwa kecil itu terjadi.

Kuatir No Way..!

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Matius 6:25

Ada sebuah peringatan yang perlu diulang-ulang, yaitu
"Kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan" serta keinginan akan hal-hal yang lain, akan mengimpit kehidupan Allah di dalam kita (Matius 13:22). Kita tidak pernah bebas dari gelombang penyerbuan yang datang bertubi-tubi ini. Jika serangan garis depannya bukan mengenai sandang pangan, maka itu mungkin mengenai uang atau kekurangan uang; tentang teman atau tidak adanya teman; atau tentang keadaan yang sulit. Ini merupakan serbuan gencar, dan hal-hal ini akan melanda bagaikan banjir, kecuali kita mengizinkan Roh Allah mengangkat panji dan melawannya.

"Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu..." Tuhan berkata agar kita berhati-hati tentang satu hal, yaitu hubungan kita dengan Dia. Akan tetapi, akal sehat kita menjerit dan berkata, "Itu konyol, aku harus memperhatikan bagaimana aku akan hidup, dan aku harus memikirkan hidangan yang akan aku makan dan minum." Yesus berkata, "Jangan." Jangan sekali-kali berpikir bahwa Dia mengucapkan hal ini tanpa memahami situasi Anda. Yesus Kristus lebih mengetahui situasi kita ketimbang diri kita sendiri, dan Dia melarang kita memikirkan hal-hal ini jika ini akan merupakan perhatian utama dalam hidup kita. Jika ada urusan-urusan yang timbul dalam hidup Anda, pastikanlah bahwa Anda selalu menempatkan hubungan Anda dengan Kristus di atas semuanya itu.

"Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Matius 6:34). Berapa banyakkah kesusahan yang telah mulai mengancam Anda hari ini? Roh-roh jahat macam apakah yang telah mulai mengintai hidup Anda sambil berujar, "Apakah rencanamu untuk bulan depan?" Yesus mengatakan agar kita tidak usaha cemas akan semua hal ini. Lihatlah lagi dan berpikirlah. Arahkan pikiran Anda kepada janji ‘terlebih lagi' dari Bapa surgawi Anda (Matius 6:30).

Kekuatiran tidak akan membawa anda keluar dari masalah.

Tuesday, November 11, 2008

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Bacaan : Ulangan 29 : 1 - 6

… pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu.-(Ul 29:5)

Setiap manusia memiliki banyak keinginan. Anda memiliki keinginan. Saya juga manusia dengan banyak keinginan. Saya ingin rumah yang mewah ala eropa. Saya ingin mobil yang lux, yang suka mencuri perhatian banyak orang. Saya ingin memiliki deposito yang lebih dari cukup. Saya ingin memiliki lima kartu kredit sekaligus, untuk membuat dompet semakin tebal saja. Saya ingin ini itu. Berbicara tentang keinginan, rasanya tidak akan pernah ada habisnya.

Saya berdoa untuk semua keinginan saya, dan saya melihat betapa bijaknya Tuhan. Ia tidak memenuhi keinginan saya. Lupakan rumah mewah, mobil keren, deposito yang menggunung dan semuanya. Bukan tipe Tuhan untuk memenuhi semua hal yang kita inginkan. Mengapa? Karena ada kalanya keinginan kita justru menjadi jerat bagi diri kita sendiri pada akhirnya. Kita menjadi sombong. Merasa diri hebat. Lupa diri, lupa daratan. Bukankah itu sikap yang justru akan menghancurkan diri kita sendiri?

Benar, Ia tidak selalu memenuhi keinginan kita, tapi yang pasti, Ia selalu mencukupi kebutuhan kita. Ia buktikan itu kepada bangsa Israel saat mereka berada di padang gurun selama 40 tahun. Ia tidak selalu memberikan apa yang bangsa Israel inginkan, tetapi Ia selalu menyediakan apa yang mereka butuhkan. Bangsa Israel butuh makan, maka Tuhan mengirim manna dan burung puyuh selama 40 tahun tanpa berhenti! Bangsa Israel butuh pakaian dan kasut, maka Tuhan membuat pakaian dan kasut mereka tidak robek dan bisa terus dipakai selama puluhan tahun.

Ada perbedaan mendasar antara keinginan dan kebutuhan. Sebagai orang tua yang memiliki anak, kita sering berurusan dengan keinginan anak yang tak ada habisnya. Sebagai orang tua bijak, apakah kita akan selalu memenuhi semua keinginan anak hanya untuk menunjukkan kasih sayang kita? Tentu saja tidak bukan? Tapi yang pasti kita akan selalu tahu apa yang menjadi kebutuhannya dan kita akan selalu mencukupinya. Kebenaran inilah yang membuat iman saya terus terpaut kepada Tuhan saat harus melewati masa-masa “padang gurun”. Saat menghadapi masa-masa sulit itulah saya merasakan betapa Tuhan selalu memelihara, mencukupi, menolong dan melakukan yang terbaik buat saya. Benar, tidak semua keinginan saya terpenuhi, tapi bersyukur karena semua kebutuhan saya dicukupinya.

Tak selalu Ia memenuhi apa yang kita inginkan, tapi Ia selalu mencukupi apa yang kita butuhkan.

MENANTI-NANTIKAN TUHAN

Bacaan Firman Tuhan hari ini: Yeremia 17:5-8

Hidup yang bergantung kepada Tuhan adalah sama dengan MENANTI-NANTIKAN TUHAN, atau dengan kata lain MENGANDALKAN TUHAN. Dunia ini mengajarkan suatu prinsip bahwa kekuatan kita terletak pada DIRI SENDIRI dan KEKUATAN-KEKUATAN LAIN diluar diri sendiri. Namun firman Tuhan mengajarkan kepada orang-orang Kristen atau umat Tuhan bahwa kekuatan kita adalah mengandalkan kekuatan TUHAN. Mengapa banyak orang Kristen belum menemukan rahasia kekuatan tersebut? Karena mereka belum menemukan rahasia dibalik KETERGANTUNGAN kita kepada TUHAN. Sekali orang Kristen menemukan rahasia dibalik ketergantungan tersebut, maka mereka akan mengalami banyak perkara-perkara indah yang terjadi sepanjang hidup mereka. Untuk itulah, sepanjang Minggu ini, melalui 4M kita akan belajar tentang hidup yang bergantung atau mengandalkan Tuhan.

Pokok doa hari ini:
Doakanlah orang-orang Kristen agar mereka mengandalkan Tuhan di dalam hidup mereka.

Ayat hafalan minggu ini:
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

YESUS ADALAH SUMBER HIKMAT

Bacaan Firman Tuhan hari ini: Kolose 2:1-5

Hikmat adalah kekuatan untuk memperoleh sukses seutuhnya. Tetapi hikmat yang dari dunia sangat terbatas, kecuali hikmat Allah saja yang tidak tak terbatas. Hikmat manusia hanya mampu membuat seseorang SUKSES secara MANUSIAWI. Namun hikmat Allah yang membuat kita untuk hidup sukses seutuhnya, baik secara rohani, jiwani dan jasmani. Tetapi dari manakah kita memperoleh hikmat Allah? Hanya di dalam Yesuslah kita dapat memperoleh hikmat. Sebab Yesus adalah sumber hikmat kita. Ketika kita memperoleh hikmat secara maksimal karena kehidupan yang dibangun berdasarkan firman Tuhan, maka kita akan hidup dalam takut akan Allah. Mari, pergunakanlah renungan 4M minggu ini untuk mencari hikmat Allah dan hiduplah di dalam hikmat tersebut.

Pokok doa hari ini:

Doakanlah orang-orang Kristen agar mempunyai hikmat Allah dalam mengatasi masalah mereka.

Ayat hafalan minggu ini:
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10).